Kamis, 30 Juli 2020

Notulensi Ngopi Juli 2020

Notulensi Ngopi Juli 2020 
"Jurnalis Bicara Pilwali Surabaya 2020"

Rahardi Soekarno Junianto - beritajatim.com :

Peta Politik yang ada masih mengarah menunggu rekomendasi PDI perjuangan versus dengan MA. Panasnya pertarungan elit DPP PDIP menyebabkan masih terlambatnya proses rekomendasi tersebut. Kalopun asumsi saya bisa saja di DPP PDIP sedang terjadi pertarungan politik yang panas antar kelompok yang berada di dalam tubuh pdip.  Ada kelompoknya Whisnu,  kelompok Eri yang didukung Risma dan kelompok ketiga yang cenderung tidak mengajukan calon.  

Rakhmat Hidayat - Harian Memorandum 

Melihat peta dukungan politik parpol hari ini bahwa seakan MA versus pdip. Tapi kita sama menyadari bahwa partai politik dan proses politik tidak terjadi seperti apa yang kita duga.  Bisa saja di beberapa hari kedepan justru MA berhasil nego pdip dan kawin politik. Dan entah menghasilkan pasangan siapa,  bisa Whisnu - MA ataupun MA - Eri.  Karena konon Eri didukung Risma yang notabene adalah saat ini elit DPP PDIP.  

Trisnadi Marjan - Tim Media Gubernur Jawa Timur :

Sampai saat ini pilwali 2020 masih belum mengeluarkan calon siapapun.  Disatu pihak MA pun belum berpasangan dan dukungan rekomendasi parpol juga belum ditunjukkan ke media. Sisi yang lain rekomendasi PDIP pun masih gelap.  Jika ditanyakan dukungan Bu Gubernur,  sampai hari ini pun gubernur masih netral,  walaupun beredar sejumlah nama yang dekat dengan beliau,  tapi gubernur tetap netral.  Hanya sering disampaikan keinginannya secara terbuka bahwa siapapun pemenang  pilkada 2020 dari 19 pilkada di jatim hendaknya tetap bisa bekerjasama yang baik dengan pemprov jatim di masa depan.  Bagi saya Pilwali Surabaya memiliki peran strategis bagi Jawa Timur,  sebagai ibukota provinsi Jawa Timur akan menjadi beban berat ketika melalui Pilwali gagal menghasilkan pemimpin yang mampu membawa kemajuan bagi Kota Surabaya itu sendiri. 

Mujib Anwar - tribunnewsjatim.com :

Aksi Borong Rekomendasi yang dilakukan MA walaupun secara politik itu tidak baik tapi UU belum melarang hal itu terjadi.  Setiap parpol bisa mengajukan kadernya sendiri ataupun justru memberi rekomendasi pada orang lain.  Hawa politik akan terasa semakin panas ketika rekomendasi PDIP justru datang di Last Minute atau 1-2 hari jelang pendaftaran. Karena itu yang menyebabkan peta politik bisa berubah setiap saat. Setiap calon masih memiliki peluang yang sama. Pilwali Surabaya ini juga menjadi bagian pertarungan elit parpol,  jika di 2024 koalisi yang terjadi adalah Prabowo-Puan maka bukan tidak mungkin hal ini terjadi di Pilwali Surabaya,  dan barisan kelompok prabowo - puan pun menciptakan ruang pertarungan politik di pilwali surabaya juga. 
 
Kardono - Harian Jawa Pos :

Pilwali Surabaya ini terasa panas,  karena Pilwali Rasa pilpres tahap III,  karena Pilpres itu sendiri tahap I,  Pilgub DKI adalah pilpres tahap II,  dan Pilwali Surabaya adalah Pilpres tahap III. Di Surabaya,  MA adalah mantan ketua TKD yang membawa kepentingan Jokowi. Sehingga dalam pertarungan rekomendasi PDIP pun ada pertarungan Jokowi dan Megawati selaku Ketua Umum dpp. 
Seperti yang disampaikan Mujib jika Prabowo-Puan terjadi versus barisan Luhut bersama Golkarnya maka tentu mereka pun akan butuh pilwali surabaya.  Dengan harapan bisa support mereka di 2024 ini. Maka dari itu,  Pilwali Surabaya memiliki peran penting bagi dinamika politik nasional. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar